Analisi Jurnal 2 Hayati Adawiyah

 

Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah Ki Anom Suroto

 

https://e-journal.metrouniv.ac.id/index.php/riayah/article/view/2806

 

A.    Definsi

Komunikasi   adalah   tentang  penyamaan  pemahaman  antara  pengirim  pesan  dan penerima pesan,  dan  apa yang diketahui oleh penerima pesan.Kalimat definisi ini termasuk kedalam jenis definisi real. Disebut dengan definisi real karena terdapat realtias atau hakikat sesuatu agar dapat menerangkan makna sebenarnya dari kata tersebut.  Kalimat ini sudah memenuhi syarat baik definisi, karena didalamnya tidak terdapat kalimat-kalimat negativ dan disampaikan secara positif. Namun, kalimat definisi ini memiliki cangkupan yang terlalu sempit.[1]

M. Quraish Shihab dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang  lebih  baik  dan sempurna,  baik  terhadap  pribadi  maupun  masyarakat[2]. Kalimat definsi ini memiliki sedikit kekurangan yaitu terdapat pemborosan kata atau, yang mengakibatkan kalimat ini terlalu berbelit-belit, tidak disampaikan secara lugas. Tetapi, kalimat definisi ini memiliki konsep, jikalau kata-kata yang dibolak-balik kedudukannya, tetap memiliki arti yang sama. Didalam kalimat definisi ini juga terdapat sebuah kata kiasan, yaitu “baik“, hal ini juga yang membuat definsi ini kurang tepat. Kalimat ini termasuk kedalam jenis definisi tujuan, serta bisa juga dikatakan sebagai definsi real. Karena didalamnya menyebutkan atau menjelaskan tujuan dari dakwah.

 

B.     Proposisi

Ki  Anom  Suroto,  adalah  dalang  yang  bukan  hanya  sebagai  dalang  akan tetapi ia adalah seorang pelastari budaya, dalam hal wayang[3]. Kalimat proposisi ini termasuk jenis proposisi kategorik, dan dapat dikatakan sempurna karena memenuhu syarat proposisi, yaitu terdapat subjek, predikat dan kopula. Bentuk kalimat yang terdapat dalam proposisi ini sedikit membingungkan, karena terdapat kalimat “bukan hanya sebagai dalang”. Kalimat yang tepat seharusnya ialah “Ki Anom Suroto adaah dalang yang mempunyai pekerjaain lain yaitu sebagai pelastari budaya dalam hal wayang” agar  bisa dipahami secara cepat dan tepat.

“Wayang tidak bisa dipisahkan dengan penyebaran Islam di Jawa”[4]. Kalimat proposisi ini termasuk kedapalam jenis proposisi hipotetik, karena menyatakan suatu kebenaran yang kebenaran tersebut bergantung pada syarat tertentu. Kalimat ini mengandung sifat relative, dimana dapat dikatakan benar atau juga sebaliknya. Karena pada era modern sekarang, penyebaran islam tidak lagi menggunakan wayang. Tetapi, untuk konsep penyebaran pada jaman dahulu, hal ini dapat dikatakan benar. 

 

C.    Kesimpulan

Merujuk kepada pembahasan bab-bab di atas, disimpulkan bahwa sejarah atau pengalaman kehidupan masa lalu Ki Anom Suroto, baik itu masa kecil atau setelah remaja, sangat berpengaruh dalam pagelaran wayang yang dilakukan oleh Ki  Anom  Suroto.  Walau  pun  Ki  Anom  Suroto  secara  sekolah  formal  hanya tamatan  SMP,  akan  tetapi  karena  kegigihannya  dalam  belajar  wayang  yang turunkan  dari  ayahnya,  ia  menjadi  dalang  yang  sangat  terkenal,  yang  bukan hanya di dalam negri akan tetapi sampai dengan luar negri. Islam  sebagai  agama  yang  diyakini  Ki  Anom  Suroto,  merupakan  bagian yang  tidak  terpisahkan  dari  cerita  atau  lakon  wayang  yang  dilakukan  oleh  Ki Anom Suroto. Komunikasi Ki Anom Suroto dalam pagelaranya, sangat memperhatikan para  penontonnya.  Lakon  atau  cerita  yang  dilakonkan  dalam  wayang  Ki  Anom Suroto  sangat  memperhatikan  masalah  yang  dihadapi,  sehingga  pesan  dalam cerita  atau  lakon  dapat  diterima  atau  dipahami  oleh  para  audiensnya.  Walau banyak keritik karena terkadang tidak sesuai dengan pakem dalang yang seperti biasanya.   Dan   ada   pula   pengkeritik   dari   sebagian   kelompok   agama,   yang menyatakan bahwa ada kemusyrikan dalam pagelaran wayang. Kesimpulan pada jurnal ini menggunakan teknik deduktif. Teknik deduktif adalah penarikan simpulan dari keadaan yang umum kepada keadaan yang khusus. Kesimpulan pada jurnal ini menggunakan teknik deduktif dalam membuatnya.  Terlihat pada pembahasan “KiAnom Suroto ialah tokoh yang berpengaruh dalam pagelaran wayang dari masa kecil hingga masa remaja nya. Selanjutnya membahas bagaimana Ki Anom Suroto dalam membawakan pagelaran wayang nya. Bahasa yang disampaikan cukup baik untuk dipahami pembaca.Tetapi ada sedikit kekuarangan yaitu tidak menyertakan saran-saran yang ditujukan untuk pembaca”. 

Penarikan kesimpulan dibuat dengan cara analogi

Hal – hal yang terdapat pada kesimpulan, bersumber dari setiap paragraph yang ada dalam jurnal ini. Kesimpulan yang didapatkan dari pengamatan terhadap Ki Anam Suroto menjadi dalang yang terkenal di daerah lingkungan ia tinggal.

Kesulitan dalam menganalisis jurnal :

1.      Sedikit sulit membedakan bentuk definisi dan proposisi

2.      Sulit untuk mencari sebuah definisi yang benar, karena bentuk definisi semua sama dan sulit untuk membedakan macam-macam definisi.



[1] Alip Nuryanto dan Saepullah, “Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah Ki Anom Suroto,” dalam Jurnal Ri’ayah, Vol. 5, No. 2, Juli-Desember 2020, h. 166. 

 

[2] Alip Nuryanto dan Saepullah, “Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah Ki Anom Suroto,” h. 158.

 

[3] Alip Nuryanto dan Saepullah, “Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah Ki Anom Suroto,” h. 153.

 

[4] Alip Nuryanto dan Saepullah, “Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah Ki Anom Suroto,” h. 154.

 

Komentar